oleh Heditia Damanik

“..Listening to recorded music has been one of the greatest joys in my life..” 

– Haruki Murakami dalam Absolutely on Music

Jam istirahat sudah purna. Satu persatu siswa kelas II-8 mulai memenuhi ruangan kelas. Aku menuju kursiku, demikian pun teman yang duduk tepat di belakangku. Batara nama si kawan itu. Lima belas tahun lalu, Batara sangat tergila-gila pada musik pop dan berhasrat menjadi vokalis sebuah band yang keren. Satu kesamaanku dan dia; kami adalah pendengar album. 

“Coba kau dengar kaset The Rain (Hujan Kali Ini, 2003), pasang di tape, pas main lagu pertama, Terimakasih Karena Kau Mencintaiku, langsung cudududududu dudu, cudududu dudu. Ah, mantap kali lah,” begitu kira-kira ringkasan cerita Batara sambil bergaya menggenggam tangan di bawah mulutnya laksana memegang mic. 

Apa yang dibagi Batara adalah ingatan kolektif kami tentang bagaimana sebuah Track 1 bisa jadi stimulus untuk menikmati perjalanan sebuah album. Buatku, mendengar musik pada titik tertentu bisa berfungsi sebagai media olah rasa. Aku ingat bagaimana ibu-ibu Dialita menjadikan menyanyi sebagai pereda “nyeri” dan akhirnya menjadi penyambung suara-suara hati.  

Omong-omong soal olah rasa, bagiku yang masih cukup mendengar rajin sebuah album penuh, Track 1 tetap mujarab menimbulkan sensasi emosional seperti yang aku tuai dari lagu Normal Moral (NKKBS Bagian Pertama-Melancholic Bitch/2017), Laguland (Lintasan Waktu-Danilla/2017), Sajak Pertemuan (Jalan Pulang-Jalan Pulang/2012), She Flies Tomorrow (The Place I Wanna Go-Risky Summerbee and The Honeythief/2008) maupun Tertatih (Sheila on 7-Sheila on 7/1999). 

Penulis terkemuka Haruki Murakami dalam buku non fiksinya “Absolutely on Music” mengungkapkan secara personal bagaimanapun kompleksitas produksi sebuah musik mulai dari metode hingga teknis, pada akhirnya musik selalu mempesona Murakami dengan cara yang sesederhana mungkin. Salah satunya adalah memanen emosi-emosi yang mengasyikkan.

Saat aku tanya ke teman-teman musisi yang sudah menetaskan beberapa album, pemilihan Track 1 bukan sekedar persoalan kocok arisan. Pertimbanganya bisa beragam, mulai dari teknis sampai intuisi. Rizky Sasono dari Risky Summerbee and The Honeythief, misalnya. Orang lama di skena musik indie Jogja ini mengaku punya pertimbangan teknis. Misalnya lagu She Flies Tomorrow (The Place I Wanna Go, 2008) dipilih sebagai track 1 karena ada kesan nyetem (alat musik) yang menandakan siap-siap atau warming up.  “Ia bisa juga jadi sebagai pondasi atau penanda buka. Di She Flies Tomorrow ada konsep nyetem dan loose sebelum menjelma jadi konkret. Makanya ia jadi pembuka,” kata Rizky yang kini sedang menempuh studi doktor di Philadelphia, Amerika Serikat.

Hal hampir senada pun muncul dari Irfan Darajat (Jalan Pulang). Meski mengaku cenderung menggunakan intuisi, tapi ia biasanya memilih lagu yang masih terkesan paling lambat seperti Perjalanan Malam yang jadi Track 1 di EP Variasi Pada Tema Jalan Pulang (2016). Akan tetapi, persoalan teknis pun tetap tidak bisa dinegasikan juga. Coba dengar Sajak Pertemuan di album sulung Jalan Pulang (2012). Sajak Pertemuan adalah pangkal sebuah cerita dilagukan. Leilani Hermiasih pun memilih komposisi yang lebih ringan untuk menjadi Track 1, namun digarisbawahi juga bahwa  lagu tersebut memuat ciri khas musik Frau dan bisa membuat pendengar penasaran. Buatku pribadi, Something More (Happy Coda, 2013) adalah track pembuka yang melemparkanku ke sebuah kota antik, tua dan penuh dengan turis-turis narsis. 

Namun, sensasi Track 1 mungkin hanya terjadi pada mereka yang mendengarkan album secara penuh. Fungsinya sebagai stimulan, pembuat penasaran maupun rangkuman hanya bisa muncul jika ia dilihat sebagai bagian dari sebuah album yang utuh. Aku secara iseng-iseng membuat polling di Instagram pada tahun 2018 dan menemukan bawah dari 38 responden hanya 26% yang mengaku masih menikmati musik dengan pola mendengarkan album penuh, sementara 74% lebih suka untuk mendengar lagu-lagu yang disukai saja. 

Tentu saja ini bukan persoalan mana yang lebih cool atau kehipster-hipsteran atau snobisme yang menyebalkan. Saat ini cara mendengarkan musik sudah terdiversifikasi, terutama karena dukungan teknologi digital yang menyediakan banyak pilihan. Mungkin saat  tumbuh di era kaset, mau tidak mau kita harus mendengarkan satu album. Alasannya, kalau harus menekan rewind atau forward untuk bersikeras mendengarkan satu lagu favorit, hal itu akan memakan waktu. Sial-sial malah membuat pita kaset jadi rusak. 

Tentu tidak ada yang salah dari cara menikmati musik yang berubah menyesuaikan inovasi-inovasi hebat manusia. Tapi entah kenapa aku punya kepercayaan yang keras kepala, bahwa sesuatu yang terlampau melimpah berpotensi membuat kita kehilangan banyak juga. Misalnya kita tidak bisa mengapresiasi sesuatu dengan lebih baik karena banyak hal yang datang dan pergi begitu cepat dan dengan ongkos yang murah. 

Saat dulu kita masih mempunyai koleksi album yang terbatas, mungkin kita jadi bisa lebih melahap satu kaset dengan bersungguh-sungguh. Misalnya kamu sampai tahu suara samar seperti mandolin di dua baris verse kedua dari Senyum dari Selatan di album Ports of Lima milik SORE (2008) karena kamu sudah mendengarkan album itu bolak balik sampai bego. Bisa jadi, emosi mengasyikkan sederhana yang seperti ini yang kita dapat dari musik seperti yang dimaksud oleh Murakami.

Ah, mungkin ini hanya kegelisahan asal lewat saja dari seorang yang sangat resah dengan ke-serba cepat-an dunia. Aku cuma merindukan obrolan seperti yang pernah aku punya dengan Batara. Tentu itu bukanlah pengalaman yang hebat-hebat sekali, tapi aku rindu ekspresi seseorang yang begitu puas menceritakan sebuah lagu pembuka yang didengar dan ia bagi pengalamannya itu dengan teman yang duduk di depan kursinya. Meski itu sebuah kepuasan yang muncul karena keterbatasan pilihan pada jamannya, namun aku pikir bukan dosa pula untuk merawat nostalgia.[]